Hai, nak...
Ini ibumu, mamamu, bundamu, atau apapun panggilanmu nanti untukku. Inilah aku, akan aku ceritakan sedikit cerita singkat ibumu ini hingga saat ibu menulis tulisan ini. Inilah pesan untukmu....
Saat ibu menulis ini usia ibu sudah 30 tahun, masih single alias belum menikah, jadi kamu sudah pasti belum ada. Iya, 30 tahun usia ibu saat menulis ini dan masih gadis. Tau kah, nak? Jaman ibu ini atau saat ibu menulis ini, tidak mudah menjadi wanita single di usia ibu sekarang, sudah tentu karena konstruksi sosial yang sudah turun-temurun terbangun di Indonesia. Tuntutan sosial? Oh, tenang sayang, ibu paling santai kok kalau menghadapi bermacam-macam "tuntutan", so, ibu tidak merasa dituntut akan kontruksi sosial ini.
Ibu sangatlah beruntung, karena nenekmu, tidak pernah menuntut ibu seperti kontruksi sosial yang terjadi hingga jaman ibu sekarang ini. Nenek sudah open minded sekali sejak ibu dibangku sekolah dulu. Nenek selalu bilang "Jangan nikah muda, nikmatilah masa muda mu, kejarlah mimpimu, keinginanmu dan eksplore lah apapun yang bisa kamu lakukan selagi muda, karena energi masa muda tidak tergantikan,". So, ibu sangat senang dan bangga sekali dengan nenekmu. Semangat dia selalu lebih besar dari semangat ibu.
Nak, sampai usia ibu 30 tahun ini, ibu sudah mengalami beberapa perjalanan hidup yang tidak mudah. Untuk itu, ibu belum memutuskan untuk berkeluarga hingga memilikimu ke dunia ini. Ibu harus menjalani peran yang mungkin seharusnya bukan bagianku, tapi begitulah hidup, harus tetap kita lalui. Suka tidak suka, mau tidak mau.
Ibu sudah kehilangan aki alias kakek mu saat usia ku menjelang 25 tahun, sebelum aki berpulang beliau mengalami sakit yang tidak sebentar, 6 tahun. 6 tahun lamanya ibu, nenek dan om mu yaitu adik ibu merawat aki bersama-sama. Ibu kehilangan 'sosok' ayah sejak memasuki usia 19 tahun. Hidup ibu berubah total sejak saat itu.
Ibu, harus putus kuliah, ibu harus bekerja, ibu harus membantu biaya sekolah om, membantu biaya pengobatan aki, mengurus segala keperluan yang ada di rumah, tidak jarang ibu tidur larut sekali karena harus mencari tambahan pemasukkan lain agar semuanya tetap bisa berjalan. Ibu pun suka lupa akan diri sendiri. Ibu sungguh-sungguh bekerja keras demi om bisa selesai sekolah, listrik bisa terus terbayar, keluarga kami bisa terus makan dan agar aki bisa sembuh, itulah keinginan terbesar ibu saat itu.
Apapun ibu lakukan dan rasanya energi untuk mencari pundi-pundi tidak ada padamnya. Ibu menjadi penulis konten berita, menjadi wartawan, freelance desain grafis, jualan catering makan siang dan hajatan kalau ada pesanan. Menarik cerita catering ini nak karena ibu kerja sama dengan nenek alias ibu berbisnis dengan nenek, nenek yang masak lalu ibu yang mengatur menu dan memasarkannya, salah satunya dengan memanfaatkan media sosial pada saat itu. Ibu juga suka jualan yang lainnya seperti hijab, pulsa, baju muslim, pengharum ruangan, aksesoris, bahkan sampai rental mobil. Ya, ibu pernah bisnis sewa-menyewa mobil yakni bekerja sama dengan beberapa pemilik rental mobil, agak beresiko memang, ibu ingat waktu itu mobil ibu tidak kembali sampai ibu dan teman-teman ibu mencari keberadaan mobil dengan GPS yang terpasang pada mesin mobil, beruntunglah ketemu mesti ibu kehilangan uang sewa beberapa juta. Jualan snack keliling di Senayan kamuflasenya sambil 'nongkrong' juga pernah ibu lakukan nak. Ibu lakukan semua itu dibawa happy aja, dan ya semua terlewati.
6 tahun berlalu, om selesai sekolah SMK saat itu namun ibu harus kehilangan aki. Itu adalah salah satu titik terendah ibu dan akupun marah pada keadaan, mengapa ibu harus kehilangan sosok seorang ayah secara total saat sebentar lagi ibu ulang tahun ke usia 25 tahun? Rasanya segala yang ibu lakukan tidak membuahkan hasil. Sedih sekali, nak. Ibu tidak punya semangat hidup dan mengurung diri selama 4 bulan untuk menerima keadaan pada saat itu.
Setelah itu ibu mulai membangkitkan semangat dan menata hidup kembali. Namun, saat baru saja ibu bekerja disalah satu kantor media di Jakarta Selatan, Covid-19 masuk ke Indonesia dan mulai diberlakukannya aturan-aturan pembatasan oleh pemerintah dimana kegiatan dan perekonomian hampir diseluruh dunia lumpuh total. Semua terdampak, termasuk pergerakan ibu pun tidak bisa kemana-mana. Kau tau nak, kondisi Covid ini merubah iklim dunia, baik itu ekonomi, politik hingga perilaku sosial dan dunia digital. Kondisi pembatasan Covid pun terjadi beberapa tahun, rasannya dunia seperti di "pause" pada saat itu.
Sembaring menyesuaikan keadaan new normal Covid effect ini, ibu membenahi satu-persatu segala urusan di rumah. Salah satunya juga mimpi ibu yang tertunda, selain itu yang ibu tidak boleh lewatkan adalah keadaan dan kesehatan nenek. Nenek berjuang sudah sebegitu hebatnya selama 6 tahun lebih, menjadi garda terdepan bagi ibu dan keluarga, nak. Untuk itu, ibu betul-betul ingin mengembalikan mental nenek yang sudah bersusah payah merawat aki dimana nenek tidak pernah meninggalkan aki barang sebentar saja, tidak pernah, hingga dinafas terakhir aki. Ibu selalu mengupayakan kebahagiaan nenek, jadi ibu bekerja keras untuk perbaikan rumah karena itu salah satu keinginan nenek, banyak sekali nak yang rusak selama aki sakit karena perhatian kami betul-betul ke aki selama 6 tahun itu.
Menginjak usia 28 tahun ibu baru bisa melanjutkan salah satu mimpi ibu yaitu melanjutkan pendidikan bangku kuliah. Ibu baru bisa diusia 28 tahun, nak :'). Memang telat sekali dari kawan-kawan ibu yang lain, namun inilah perjalanan ibu, berbeda dari yang lainnya. Mungkin saat ini, ibu belum memiliki legacy yang membanggakan. Tapi ibu selalu bertekad pada diri sendiri untuk selalu mengupayakan segala sesuatu dengan sebaik mungkin mesti jalannya tidak mulus atau bahkan terjal. Ibu akan tetap berjalan walaupun tertatih. Tenang nak, ibu akan selalu berjuang, sampai titik akhir, sampai hembusan nafas ibu berhenti. Ibu akan mempersiapkan dengan sebaik mungkin untuk bisa membangun keluarga dan menghadirkanmu ke dunia ini. Ibu akan menjaga kamu di dunia ini dan memperkenalkanmu dengan seluruh jiwa raga ibu bahwa dunia ini indah sekali.
Mungkin suatu hari ini, saat kamu membaca ini, akan menjawab pertanyaan-pertanyaan mu atau rasa penasaranmu, "kenapa aku tidak seumuran dengan anak-anak teman ibu yang lain?, kenapa ibu tidak nikah muda?, dan pertanyaan kenapa-kenapa-kenapa yang lainnya,".
Ibu menulis ini agar kamu tau dengan tulisanku sendiri, nak. Perjalanan yang memang ibu lalui, yang memang aku alami, ibu tidak ingin kamu mendengar hal lain yang belum tentu kebenarannya dari orang lain. Jika kamu sudah besar, kamu akan paham bagaimana dunia ini bekerja. So, salah satunya ibu persiapkan tulisan ini untukmu ya sayaaaang.....
Ibu berharap, kamu tumbuh menjadi manusia dengan hati yang selalu memiliki empati, takut akan Allah, rendah dan baik hati, miliki sopan santun, sehat, memiliki sense of crisis, rasa humor yang bagus, selera musik dan genre film yang bagus hehe. Tumbuhlah menjadi manusia yang membanggakan dan selalu mau belajar. Jangan pernah takut, nak, peliharalah terus rasa penasaranmu agar semakin banyak kau tau. Semoga kamu menjadi anak yang berani, pekerja keras, gigih, memiliki fisik yang kuat dan disiplin. Tapi itu adalah keinginan ibu, yang terpenting kamu tumbuh sehat dan happy, menjadi manusia yang hadir ke dunia adalah cukup bagiku.
Sebelum kamu ada di dunia ini, rasanya ibu sudah begitu menyayangimu, kamu tau bahwa ibu sering sekali berdialog dengan Allah usai sholat ibu untuk mimpi-mimpi ibu salah satunya adalah kehadiranmu nanti.
Sudah dulu ya, nak. Nanti ibu akan tulis tentang pertemuan ataupun cerita ibu dengan ayahmu ya! Hehe
Sampai nanti ditulisan berikutnya.
I love you.....


0 Komentar